Komparasi Pemikiran Wasil Bin Atha dan Jean Paul Sartre Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab Manusia
Penelitian
DOI:
https://doi.org/10.70292/jpcp.v4i1.673Keywords:
Kebebasan, Tanggung Jawab Moral, Wasil bin Atha, Jean-Paul Sartre, Mu'tazilah, EksistensialismeAbstract
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan secara kritis pemikiran Wasil bin Atha dan Jean-Paul Sartre mengenai konsep kebebasan serta tanggung jawab manusia. Isu kebebasan bertindak dan akuntabilitas moral merupakan dua pilar penting yang senantiasa diperdebatkan dalam tradisi teologi Islam maupun filsafat Barat modern. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis kajian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan komparatif-filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wasil bin Atha mengonstruksi kebebasan melalui doktrin khalq al-af'al berbasis Keadilan Tuhan (al-'Adl), di mana manusia dianugerahi daya (qudrah) untuk memilih dan mempertanggungjawabkannya di akhirat (al-wa'd wa al-wa'id). Sementara itu, Jean-Paul Sartre merumuskan kebebasan radikal (radical freedom) atas dasar tesis l'existence précède l'essence, di mana ketiadaan Tuhan menuntut tanggung jawab total individu tanpa dalih bad faith. Persamaan kedua pemikir terletak pada penolakan tegas terhadap determinisme, sedangkan perbedaannya berakar pada landasan ontologis: Wasil berbasis pada teologi-transendental, sedangkan Sartre berbasis pada eksistensialisme-imanen.









