Hubungan Ketersediaan Sarana Identifikasi Risiko Jatuh dengan Pelaksanaan Identifikasi Pasien Risiko Jatuh di Rumah Sakit Jiwa

Penulis

  • Erma Kasumayanti Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
  • Siti Hotna Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
  • Ridha Hidayat Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
  • Awari Susanti Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

DOI:

https://doi.org/10.70292/jpcp.v4i1.510

Kata Kunci:

Identifikasi risiko jatuh, Sarana identifikasi, Keselamatan pasien, Rumah sakit jiwa

Abstrak

Risiko jatuh merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien yang menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan karena dapat menimbulkan cedera, memperpanjang masa perawatan, dan meningkatkan biaya pelayanan. Pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap kejadian jatuh akibat gangguan persepsi, penurunan fungsi kognitif, efek samping penggunaan obat psikotropika, serta perubahan perilaku yang dapat memengaruhi kemampuan menjaga keselamatan diri. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kejadian jatuh adalah pemberian identifikasi kepada pasien yang memiliki risiko jatuh. Namun, pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh tidak selalu berjalan optimal, salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan sarana identifikasi yang digunakan sebagai penanda pasien berisiko. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh dengan pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh di Rumah Sakit Jiwa. Metode yang digunakan adalah desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat pelaksana yang bekerja di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa. Sampel penelitian berjumlah 109 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh berada pada kategori kurang baik, yaitu sebanyak 76 responden (58,5%). Pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh juga sebagian besar berada pada kategori kurang baik, yaitu sebanyak 71 responden (54,6%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh dengan pelaksanaan identifikasi pasien risiko jatuh di Rumah Sakit Jiwa (p = 0,003). Ketersediaan sarana identifikasi risiko jatuh yang memadai berperan dalam mendukung pelaksanaan identifikasi pasien secara optimal. Diharapkan penyediaan sarana identifikasi yang sesuai perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien dan mencegah kejadian jatuh di rumah sakit jiwa.

Diterbitkan

2026-07-08